Bergabunglah ke Facebook fanpage "MEMBACA DI NEGRI PAMAN SAM" (MDNPS) dan Facebook group "Friends of MEMBACA DI NEGRI PAMAN SAM." Dapatkan kiriman artikel terbaru dan update berbagai program yang sedang berlangsung di MDNPS secara cepat dan mudah.

Merintis Teori Kecerdasan Berganda (Review buku: Frames Of Mind, The Theory of Multiple Intelligences of Howard Gardner)

Hey! anda juga jenius!
Satu hari dibulan Januari, teman saya, seorang guru dari Sumatera Utara mengingatkan saya tentang pentingnya membaca buku yang berkaitan dengan teori Multiple Intelligences/MI. Saat itu kami sedang membicarakan tentang teori kecerdasan yang lain, namun beliau menjelaskan kalau di lingkungan pendidikannya saat ini, teori MI inilah yang lebih banyak dipakai dan populer. Demikianlah, saya cari buku yang “bertanggung jawab” atas pencetusan teori ini, dan syukurlah, saya temukan.

Support the "GEN-In-US" pada tiap anak

Review buku ini adalah salah satu dari rangkaian review buku perintis/pendobrak ide yang ingin saya sajikan. Pada tahun 1983, penerbitan buku inilah yang menandai peluncuran teori MI oleh pencetusnya. Dunia pendidikan saat itu masih dimonopoli oleh aplikasi teori Intelligence Quotient/IQ, sebagai tolak ukur kecerdasan sejak tahun 1900-an. Review kali ini juga lebih merupakan peletakan pondasi dasar dari review buku-buku yang akan datang. Di masa datang saya ingin membaca buku lebih baru yang berhubungan dengan MI dan berbagi infonya dengan anda, dan review ini dapat menjadi referensi bagi anda yg memerlukan informasi dasar teorinya.

Menurut penulisnya, penulisan buku ini diawali oleh sebab yang tidak biasanya. KLIK DISINI lanjutan: Merintis Teori Kecerdasan Berganda (Review buku: Frames Of Mind, The Theory of Multiple Intelligences of Howard Gardner)

Demam High IQ versus High EQ, kembali ke buku yang mengawali semuanya (Review buku “Emotional Intelligence”, by Daniel Goleman)

Daniel Goleman Ph.D., adalah seorang psikolog, penulis buku, dan jurnalis dibidang sains. Goleman dilahirkan di Stockton, California pada tahun 1946. Saat ini beliau menetap di negara bagian Massachusetts. Goleman mengajar dan mendapatkan gelar Ph.D. dari Harvard University. Sang profesor juga merupakan penulis tetap dari artikel-artikel sains tentang otak dan perilaku di harian The New York Times. Selain itu, beliau juga pernah menjabat sebagai Senior Editor pada majalah Psychology Today.

Mengapa saya menulis review buku ini?

Pertama, karena buku ini adalah “mbahnya” dari semua buku tentang teori EQ yang sekarang ini telah luas beredar. Kemudian buat saya, topik ini sangat menarik untuk dipelajari. Teori ini menghembuskan udara optimisme/positif dalam usaha memberikan bekal bagi anak-anak kita. Seperti membuktikan bahwa setiap anak dengan latar belakang pendidikan orangtua apapun memiliki harapan untuk sukses. Saya berencana untuk secara bertahap membaca dan memberikan review dari buku-buku yang berhubungan dengan teori ini, oleh karena itu adalah penting bagi saya untuk meletakkan pondasinya bagi artikel-artikel terkait yang akan datang.

Seperti telah kita ketahui, dekade ini dunia psikologi seperti menemukan “mainan baru.” Mainan baru tersebut dikenal dengan nama teori Emotional Intelligence/Kecerdasan Emosi. Istilah ini diperkenalkan oleh Daniel Goleman dengan peluncuran buku ini pada tahun 1995. Sebelum istilah Emotional Intelligence (atau Emotional Quotient/ EQ) muncul, dunia pengukuran kecerdasan manusia dimonopoli oleh istilah Intelligence Quotient /IQ, yang mengukur kecerdasan manusia berdasarkan rangkaian tes dari aspek verbal, working memory, visual-spatial, dll.

Buku ini telah ditulis berdasarkan terobosan baru dalam penelitian-penelitian tentang otak dan perilaku manusia. Di dalam buku ini Goleman menekankan bahwa Intelligence Quotient/IQ bukan akhir dari takdir yang akan menentukan masa depan seseorang. KLIK DISINI lanjutan: Demam High IQ versus High EQ, kembali ke buku yang mengawali semuanya (Review buku “Emotional Intelligence”, by Daniel Goleman)

Bila Si Pinter Gagal, dari buku: “When Smart People Fail,” by Carole Hyatt & Linda Gottlieb

Carole Hyatt sebelumnya adalah salah satu pemilik Hyatt/Esserman Research Assoc. dan memiliki banyak klien perusahaan dari jajaran Fortune 500, sebelum partner usahanya tiba-tiba meninggal karena serangan jantung, dan menghancurkan kesuksesannya. Linda Goettlieb dikenal sebagai seseorang yang sangat percaya diri dan agresif sebagai senior vice-president Highgate Pictures (perusahaan tv dan film pendidikan), prestasinya sangat mengagumkan boss perusahaan yang dia sendiri ikut “membidani” kelahiran dan kejayaannya. Goettlieb tidak pernah mengalami kegagalan, sampai suatu hari, perusahaan yang menjadi ladang emas prestasi baginya, memecatnya. Setelah menulis buku ini, Carole Hyatt menjalani karir sebagai penulis buku, motivator, dan career dev. consultant yang bereputasi internasional dengan perusahaan bernama Carole Hyatt & Assoc. Linda Gottlieb telah menerima 5 nominasi untuk Daytime Emmy Awards, memenangkan 3 Outstanding Drama Series.

Ih serem banget judulnya…
Yup, kenapa? Karena judul buku ini mengandung suatu kata yang paling kita takuti, yaitu “Fail” alias “Gagal”.
Tapi tahukah anda sesuatu yang unik dari kata (yang kadang menyebutkannya saja) dapat mempengaruhi emosi kita ini?
Yaitu, semua orang tidak menyukai kata ini, tapi semua orang pasti pernah mengalaminya. Kita bisa berusaha menghindari pemakaian kata ini dalam kehidupan sehari-hari,tapi kita tidak akan bisa menghindarinya saat karena suatu sebab yang kita ketahui atau tidak, kita harus mengalami kegagalan.

Saat bertemu kegagalan, benarkah semua akan menjadi gelap??

Jadi tidak perduli umur, jenis kelamin, warna kulit, kedudukan, dan keadaan saat ini, semua manusia pasti pernah mengalami kegagalan. Jadi sia-sialah jika anda berusaha untuk mencari seseorang yang benar-benar tidak pernah gagal, bayi merah saja pernah gagal (saat tersedak mencoba minum pertama kali? ini contoh konyol bukan?). Jadi kenapa ada orang yang disebut sukses, dan ada orang yang disebut gagal? Terus kenapa ada orang yang kelihatannya sukses terus alias bergelimang kesuksesan, dan ada orang yang “bergelimang kegagalan”?

KLIK DISINI lanjutan: Bila Si Pinter Gagal, dari buku: “When Smart People Fail,” by Carole Hyatt & Linda Gottlieb