Bergabunglah ke Facebook fanpage "MEMBACA DI NEGRI PAMAN SAM" (MDNPS) dan Facebook group "Friends of MEMBACA DI NEGRI PAMAN SAM." Dapatkan kiriman artikel terbaru dan update berbagai program yang sedang berlangsung di MDNPS secara cepat dan mudah.

Merintis Teori Kecerdasan Berganda (Review buku: Frames Of Mind, The Theory of Multiple Intelligences of Howard Gardner)

Hey! anda juga jenius!
Satu hari dibulan Januari, teman saya, seorang guru dari Sumatera Utara mengingatkan saya tentang pentingnya membaca buku yang berkaitan dengan teori Multiple Intelligences/MI. Saat itu kami sedang membicarakan tentang teori kecerdasan yang lain, namun beliau menjelaskan kalau di lingkungan pendidikannya saat ini, teori MI inilah yang lebih banyak dipakai dan populer. Demikianlah, saya cari buku yang “bertanggung jawab” atas pencetusan teori ini, dan syukurlah, saya temukan.

Support the "GEN-In-US" pada tiap anak

Review buku ini adalah salah satu dari rangkaian review buku perintis/pendobrak ide yang ingin saya sajikan. Pada tahun 1983, penerbitan buku inilah yang menandai peluncuran teori MI oleh pencetusnya. Dunia pendidikan saat itu masih dimonopoli oleh aplikasi teori Intelligence Quotient/IQ, sebagai tolak ukur kecerdasan sejak tahun 1900-an. Review kali ini juga lebih merupakan peletakan pondasi dasar dari review buku-buku yang akan datang. Di masa datang saya ingin membaca buku lebih baru yang berhubungan dengan MI dan berbagi infonya dengan anda, dan review ini dapat menjadi referensi bagi anda yg memerlukan informasi dasar teorinya.

Menurut penulisnya, penulisan buku ini diawali oleh sebab yang tidak biasanya. KLIK DISINI lanjutan: Merintis Teori Kecerdasan Berganda (Review buku: Frames Of Mind, The Theory of Multiple Intelligences of Howard Gardner)

Buku panduan untuk menyekolahkan anak dirumah? (review buku “The Home School Manual” of Theodore E. Wade, Jr.)

Diantara teman-teman saya, paling tidak ada tiga keluarga yang memutuskan untuk menyekolahkan sendiri anaknya di rumah. Tanpa terhindar, sewaktu-waktu saya terpikir akan berbagai macam motivasi yang melatar belakangi pengambilan keputusan ini. Termasuk mengapa sampai timbul keperluan bagi sebuah keluarga untuk menyekolahkan putra-putrinya di rumah. Pro dan kontra dari teman-teman yang lainnya juga sangat beragam, baik yang positif maupun negatif. Semua info “was-wis-wus” yang saya dengar, tidak berhasil membuat saya untuk bisa menarik kesimpulan sedikitpun tentang hal ini. Jadi bermodalkan rasa ingin tahu, saya memutuskan untuk mempelajari hal ini lebih jauh dari sumber yang lebih legitimate, buku panduannya.  

……buku ini disajikan dengan cara yang menurut saya kreatif, menolong, dan unik, dalam usaha menuntun setiap pembacanya mengeksplorasi isi buku. Cara tersebut dinamakan “Tour”…..

Perpustakaan, tempat yang baik untuk belajar dan mengajar..

 

Sebelum melanjutkan, saya ingin anda mengetahui bahwa disamping alasan tadi, pada waktu yang sama, saya juga mempunyai misi yang sejalan. Dari interaksi saya dengan teman-teman di tanah air, banyak juga para orangtua di Indonesia yang saat ini berminat untuk mempelajari tentang seluk-beluk home school. Pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan hal ini bermunculan bagaikan jamur dimusim hujan (atau di kebun-kebun jamur di pegunungan). Tentu saja bagi teman pembaca di tanah air, buku ini tidak bisa begitu saja dipakai secara leterlek, dan lebih merupakan bahan perbandingan terhadap prinsip-prinsip home school yang ada di Indonesia. Mari belajar bersama, tentang homeschooling disisi lain dari belahan dunia dari tanah air kita tercinta.

 

Diantara buku-buku panduan home school yang ada di perpustakaan, saya membawa pulang buku ini. Buku ini saya pilih karena gampang terlihat dari ukurannya yang besar, tebal, dan sekilas daftar isinya paling lengkap (bukan alasan yang terakurat untuk memilih buku?). Saya pikir, saya akan belajar tentang home school mulai dari buku “setebal bantal” ini, dan berusaha KLIK DISINI lanjutan: Buku panduan untuk menyekolahkan anak dirumah? (review buku “The Home School Manual” of Theodore E. Wade, Jr.)

Demam High IQ versus High EQ, kembali ke buku yang mengawali semuanya (Review buku “Emotional Intelligence”, by Daniel Goleman)

Daniel Goleman Ph.D., adalah seorang psikolog, penulis buku, dan jurnalis dibidang sains. Goleman dilahirkan di Stockton, California pada tahun 1946. Saat ini beliau menetap di negara bagian Massachusetts. Goleman mengajar dan mendapatkan gelar Ph.D. dari Harvard University. Sang profesor juga merupakan penulis tetap dari artikel-artikel sains tentang otak dan perilaku di harian The New York Times. Selain itu, beliau juga pernah menjabat sebagai Senior Editor pada majalah Psychology Today.

Mengapa saya menulis review buku ini?

Pertama, karena buku ini adalah “mbahnya” dari semua buku tentang teori EQ yang sekarang ini telah luas beredar. Kemudian buat saya, topik ini sangat menarik untuk dipelajari. Teori ini menghembuskan udara optimisme/positif dalam usaha memberikan bekal bagi anak-anak kita. Seperti membuktikan bahwa setiap anak dengan latar belakang pendidikan orangtua apapun memiliki harapan untuk sukses. Saya berencana untuk secara bertahap membaca dan memberikan review dari buku-buku yang berhubungan dengan teori ini, oleh karena itu adalah penting bagi saya untuk meletakkan pondasinya bagi artikel-artikel terkait yang akan datang.

Seperti telah kita ketahui, dekade ini dunia psikologi seperti menemukan “mainan baru.” Mainan baru tersebut dikenal dengan nama teori Emotional Intelligence/Kecerdasan Emosi. Istilah ini diperkenalkan oleh Daniel Goleman dengan peluncuran buku ini pada tahun 1995. Sebelum istilah Emotional Intelligence (atau Emotional Quotient/ EQ) muncul, dunia pengukuran kecerdasan manusia dimonopoli oleh istilah Intelligence Quotient /IQ, yang mengukur kecerdasan manusia berdasarkan rangkaian tes dari aspek verbal, working memory, visual-spatial, dll.

Buku ini telah ditulis berdasarkan terobosan baru dalam penelitian-penelitian tentang otak dan perilaku manusia. Di dalam buku ini Goleman menekankan bahwa Intelligence Quotient/IQ bukan akhir dari takdir yang akan menentukan masa depan seseorang. KLIK DISINI lanjutan: Demam High IQ versus High EQ, kembali ke buku yang mengawali semuanya (Review buku “Emotional Intelligence”, by Daniel Goleman)