Bergabunglah ke Facebook fanpage "MEMBACA DI NEGRI PAMAN SAM" (MDNPS) dan Facebook group "Friends of MEMBACA DI NEGRI PAMAN SAM." Dapatkan kiriman artikel terbaru dan update berbagai program yang sedang berlangsung di MDNPS secara cepat dan mudah.

Mengajarkan Anak Mengatur Uang & Membiayai Hidup (Part 1)

Uang?? Betul sekali, topik yang sangat ingin saya bahas kali ini tidak lain tidak bukan adalah tentang: Uang. Secara lebih spesifik lagi, review buku kali ini adalah tentang buku yang mengajarkan pengaturan keuangan pada anak.

Mengapa uang?

Mengapa anak-anak?

Keluarga saya, seperti juga kebanyakan keluarga yang lain sewaktu-waktu mengalami pasang surutnya kondisi keuangan. Pengalaman hidup juga mengajarkan bahwa standar pasang surut penghidupan masing-masing keluarga begitu beragam. Perbedaan ini sangat tergantung pada keadaan, penghasilan, gaya hidup/filosofi keluarga, dan faktor-faktor lain.

Dari waktu kewaktu, saya pernah membaca buku serial managemen finansial populer. Diantara buku-buku tersebut adalah buku-buku populer semacam karya Kiyosaki, Suze Orman, Napoleon Hill, dan lain-lain. Membaca buku-buku tersebut telah memberikan saya inspirasi bahwa kondisi penghidupan, termasuk perencanaan masa depan setiap orang dalam satu keluarga, sangat tergantung pada keberhasilan pengaturan keuangan sebagai salah satu faktor yang sangat penting.

Suka atau tidak, banyak sekali masalah-masalah dalam hidup dari yang kecil, yang lebih merepotkan, sampai yang sangat besar, yang diakibatkan oleh ketidaktahuan atau ketidakbijaksanaan seseorang dalam mengelola uang (saya suka menyebutnya dengan: rejeki). Rasanya aman bagi saya untuk berkata bahwa “tidak semua orang cukup sportif” akan keadaan ini, sehingga permasalahan pengaturan rejeki tak terkendali tidak hanya membuat kehidupan menjadi lebih pelik, namun sering jadi merambat-rambat ke masalah lainnya.

Apakah hal itu karena kita semua tidak pernah belajar tentang angka alias berhitung? Tidak. KLIK DISINI lanjutan: Mengajarkan Anak Mengatur Uang & Membiayai Hidup (Part 1)

Belajar bersikap positif, kuat, fokus, dan dermawan dari Pak Tony (Resensi buku “Awaken The Giant Within” by Anthony Robbins)

“Buku baru!…”

Dua kata inilah yang pertama kali muncul di kepala saya saat membuka halaman paling depan buku ini yang ditempeli sebuah kartu perpustakaan dengan tulisan “DATE DUE: JUNE 23, 2010.” Dari kondisinya, betapa mengkilatnya, terlihat sekali bahwa buku ini belum pernah tersentuh atau di-”check-out” seseorang, mungkin buku stok. Kartunya juga baru, dan tanggal yang tercantum diatas adalah satu-satunya stempel yang tertera.

Tentang penulis buku:

Siapakah Anthony Robbins? Saat menulis buku ini, Anthony Robbins adalah seorang pengusaha, penulis, dan presiden direktur dari Robbins Research International Inc. Di usia 24 tahun, Mr. Robbins telah menjadi seorang milyuner dan mendirikan 9 perusahaan. Beliau juga mendirikan The Anthony Robbins Foundation (Yayasan Anthony Robbins) yang bergerak di bidang pemberdayaan/peningkatan potensi anak-anak muda, orang-orang tua, termasuk para narapidana, untuk menjadi kelompok masyarakat yang mampu memberikan kontribusi tinggi bagi masyarakat sekitarnya. Selain perusahaan-perusahaan dan yayasan tersebut, Anthony Robbins juga telah dikenal sebagai pembimbing handal bagi organisasi-organisasi global, termasuk lembaga marinir dan atlit olimpiade.

Gentar, demikian perasaan yang terbit sesaat saya membaca daftar isi buku ini untuk pertama kalinya.

Alasan saya [ya, alasan..:-)] adalah karena saat saya skimming alias membaca awal seliwatan, saya merasa bahwa buku ini mengandung muatan energi kemajuan yang kuat sekali. Otak saya tanpa terkendali berpikir: Apakah saya akan mampu menanggulangi hasil stimulasi buku ini seusai membacanya?…tapi bagaimana saya bisa mensarikan isi buku ini untuk para pembaca saya, bila untuk membacanya saja saya mengkerut..?

Tips bagi seseorang yang baru dengan buku-buku motivasi, semata-mata membaca daftar isi buku ini saja juga dapat dirasakan seperti membaca manual “Teknik-teknik praktis trampil terbang.” Foto Mr. Robbins di depan buku ini dimata saya juga terlihat agak “pop,” bukan semacam foto serius atau penuh wibawa yang ada disampul buku-bukunya yang lain atau buku managemen populer pada umumnya.

Bilakah buku ini “hanya” merupakan salah satu buku dari banyak buku managemen populer yang trendi?

Ya ya ya…awalnya saya memang kecut dan begitu penuh prasangka, tetapi semua pemikiran tersebut akhirnya lumer saat paragraf ini tiba-tiba menarik perhatian saya, yang kalau diterjemahkan kira-kira bunyinya demikian:

“Saya memilih untuk percaya bahwa Sang Pencipta kita itu tidak pilih kasih, bahwa kita semua telah diciptakan secara unik, dengan kesempatan yang sama untuk menjalani hidup sepenuhnya… Saya telah memutuskan untuk memberikan kontribusi dengan suatu cara tertentu yang akan tetap “hidup” jauh setelah saya tiada.” (hal 22)

Awaken The Giant Whitin, by Tony Robbins

Ok now, sebelum saya benar-benar menumpahkan seluruh isi buku ini ke internet dan meminta anda untuk membacanya sendiri (just kidding!), maka sesuai “ikrar” saya, saya akan memberi petunjuk pada anda secara garis besar sekilas tentang komponen dari isi buku ini.

Buku ini terdiri dari 4 bagian/part:

Part One: Melepaskan (belenggu) kekuatan anda. KLIK DISINI lanjutan: Belajar bersikap positif, kuat, fokus, dan dermawan dari Pak Tony (Resensi buku “Awaken The Giant Within” by Anthony Robbins)

To School or Not To School, Disekolahin atau…?? (Review buku Howard Gardner’s “The Unschooled Mind”)

Pada saat saya mengetik halaman kedua dari review yang sedang anda baca ini, saya baru tersadar kalau sepanjang proses membaca dan menuliskan pemikiran saya tentang buku ini, saya belum pernah menemukan bagian yang menyatakan tujuan dan motivasi sang author untuk menulis buku ini. Sambil setengah heran, saya berhenti mengetik, kembali ke bagian awal dari buku ini, dan menelusurinya kata perkata. Tetap tidak ada kata “this book is written…for…because…why..,” atau kata apa saja yang akan memberi petunjuk dan memudahkan saya untuk mengetahui mengapa buku ini ditulis (doh!). Setelah kali ke tiga mata saya menelusuri bagian pembukaan buku ini, akhirnya saya memutuskan kalau buku ini pada dasarnya adalah perwujudan dari perluasan sebuah essay yang telah dibuat sebelumnya, tentang topik terkait…

Kesimpulan itu saya ambil setelah membaca kalimat ini dihalaman acknowledgement:

“I owe a special debt to Stephen Granbard who commissioned an essay on this topic and encouraged me to expand the resulting paper into book form..” (xi).

Okay, saya cukup puas, karena alasan itupun buat saya cukup masuk akal bagi seseorang untuk menulis sebuah buku, apalagi sebuah yang berbobot seperti ini. Paling-paling saya berharap bahwa kata-kata “book” yang disebut dalam kalimat itu memang buku ini, dan Gardner tidak sedang membicarakan buku lain (just kidding!).

Dengan didasari pemikiran ini, saya lanjut mengetik, dalam usaha saya mengajak anda untuk mengintip isi buku bertema pendidikan yang judulnya kedengaran seperti kebalikannya ini.

“Pikiran yang enggak disekolahin!?……”

Kata-kata itulah yang secara polos muncul di kepala saya, saat saya membaca judul buku ini untuk pertama kalinya. KLIK DISINI lanjutan: To School or Not To School, Disekolahin atau…?? (Review buku Howard Gardner’s “The Unschooled Mind”)

Menyingkap Sisi Kemisteriusan ASD, Bruey’s “Demystifying Autism Spectrum Disorders” Book (Review Buku Spektrum Autisme ke-2)

“Hello..Mrs.Han??…Yes..This is Mrs.Drew..It’s your son, today…He got frightened again when the fire alarm came off for the drill..Yes..He was so scared that he kept crying, strongly refused to come back to the class…And was hiding under the table the whole last hour….”

the "mystic" book

Tulisan ini adalah lanjutan dari rangkaian review buku seputar spektrum autisme. Kali ini akan saya sajikan ulasan tentang buku autisme yang kedua, berjudul “Demystifying Autism Spectrum Disorders, A Guide to Diagnosis for Parents and Professionals.” Judul ini kalau diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia kira-kira berarti: “Menyingkap misteri kelainan spektrum autisme, sebuah bimbingan diagnosa bagi orang tua dan para profesional.”

Diagnosa dini dapat memperluas peluang penyandang ASD untuk maju, sampai pada kemungkinan untuk mengikuti kelas-kelas regular. Untuk yang lebih muda lagi, bahkan dapat memiliki kemungkinan untuk lepas dari pendidikan khusus selama hidupnya KLIK DISINI lanjutan: Menyingkap Sisi Kemisteriusan ASD, Bruey’s “Demystifying Autism Spectrum Disorders” Book (Review Buku Spektrum Autisme ke-2)

Membaca Pikiran Seorang Supermodel di Heidi Klum’s “Body of Knowledge” (Review buku)

Insting saya mengatakan kalau buku ini kemungkinan besar tidak akan ada di tanah air.
Ada beberapa alasan mengapa saya menduga demikian. Yang pertama karena buku ini bukan termasuk tipe buku populer dengan subjek spesifik bisnis, psikologi, komik, politik, fiksi, cerita anak, atau berbagai subjek populer lain yang banyak diterjemahkan ke bahasa Indonesia dan tersedia di toko-toko buku. Juga jelas sekali kalau buku ini juga bukan jenis buku formal tentang sains, pendidikan, atau subjek-subjek lain yang banyak dipakai disekolah-sekolah.
Yang paling telak, buku ini nyatanya memang banyak mengandung foto-foto Klum sendiri sepanjang karirnya sebagai foto model. Banyak diantara foto-foto tersebut yang terlihat “weleh-weleh…” menurut ukuran budaya ketimuran, beberapa diantaranya secara mengagetkan malah berkategori “halaah!!!…”

Klum's body of knowledge

Oh ya, saya juga tidak bisa berasumsi kalau semua pembaca review buku ini tahu Heidi Klum bukan?
Maka saya akan jelaskan sedikit tentang penulis yang juga merupakan subjek buku ini. Heidi Klum adalah seorang supermodel Amerika kelahiran Jerman yang sudah sangat terkenal di bidang profesinya. Selain menjadi foto model, Klum juga menjalankan banyak bisnis. Bisnisnya banyak yang berhubungan dengan kecantikan, namun beberapa diantaranya tidak secara langsung berhubungan. Ia juga menjadi host sebuah tv reality show yang bernama “Project Runway,” dan merupakan salah satu model utama dari produk pakaian terkenal Victoria Secret.

KLIK DISINI lanjutan: Membaca Pikiran Seorang Supermodel di Heidi Klum’s “Body of Knowledge” (Review buku)

“The Out-of-Sync Child” book, Berbicara Tentang Anak-Anak yang Tidak Seirama (Review Buku Spektrum Autisme 1)

Ketika teman saya, seorang ibu, menceritakan perasaannya tentang buah hatinya yang dikhawatirkan menunjukkan gejala Sensory Integration Dysfunction, tidak ada kata lain yang bisa saya sampaikan, selain menyatakan kalau saya faham perasaannya. Tidak juga ada yang lebih nyata lagi dalam menggambarkan rasa “faham” itu, selain dengan memutar kembali “kaset sendu” keluarga kami yang terekam beberapa tahun yang lalu. Masih ingat rasanya, persis sesaat sebelum pesawat kami take off ke negeri orang, seorang kerabat kami mengucapkan:

“Vie, kata istriku…anakmu autis..”

Pencarian saya akan buku-buku yang berhubungan dengan Sensory Integration Dysfunction (untuk mempersingkat, selanjutnya akan saya sebut “SID”), diawali dari internet untuk mencari tahu tentang apa yang saat ini sedang terjadi di dunia spektrum autisme secara umum. Setelah mendapatkan info awal, saya masukkan info tersebut ke katalog online jaringan perpustakaan kota kami dan seluruh wilayah sekitarnya. Buku yang berhubungan muncul banyak, beberapa diantaranya kelihatan cukup berharga untuk diburu, dan tersebar di beberapa kota tetangga. Pencarian kemudian saya akhiri dengan 4 buku ditangan, yang saya anggap paling baik untuk dipelajari.

taktil..

Pada kesempatan ini, saya akan sajikan ulasan tentang buku yang pertama, berjudul “The Out-of-Sync Child: Recognizing and Coping with Sensory Integration Dysfunction.” Setelah membaca review ini, anda akan tahu mengapa saya memilih untuk menyajikan buku ini sebagai kandidat anjuran baca yang pertama. Di rumah, sebelum saya baca, buku ini saya “skim”selama dua malam, sebagai perkenalan yang pertama. Hasilnya? Sampai pada saat saya menulis kalimat ini, sebenarnya saya belum tahu kata yang paling tepat untuk menggambarkannya, tapi hal ini justru yang mendorong saya untuk terus membacanya.

“Orang tua dan guru sering merasa frustasi dalam menangani seorang anak yang memiliki gejala SID,..bagaimana perasaan anak itu sendiri bila hal itu sampai terjadi? Sama…” (Kranowitz)

KLIK DISINI lanjutan: “The Out-of-Sync Child” book, Berbicara Tentang Anak-Anak yang Tidak Seirama (Review Buku Spektrum Autisme 1)

Merintis Teori Kecerdasan Berganda (Review buku: Frames Of Mind, The Theory of Multiple Intelligences of Howard Gardner)

Hey! anda juga jenius!
Satu hari dibulan Januari, teman saya, seorang guru dari Sumatera Utara mengingatkan saya tentang pentingnya membaca buku yang berkaitan dengan teori Multiple Intelligences/MI. Saat itu kami sedang membicarakan tentang teori kecerdasan yang lain, namun beliau menjelaskan kalau di lingkungan pendidikannya saat ini, teori MI inilah yang lebih banyak dipakai dan populer. Demikianlah, saya cari buku yang “bertanggung jawab” atas pencetusan teori ini, dan syukurlah, saya temukan.

Support the "GEN-In-US" pada tiap anak

Review buku ini adalah salah satu dari rangkaian review buku perintis/pendobrak ide yang ingin saya sajikan. Pada tahun 1983, penerbitan buku inilah yang menandai peluncuran teori MI oleh pencetusnya. Dunia pendidikan saat itu masih dimonopoli oleh aplikasi teori Intelligence Quotient/IQ, sebagai tolak ukur kecerdasan sejak tahun 1900-an. Review kali ini juga lebih merupakan peletakan pondasi dasar dari review buku-buku yang akan datang. Di masa datang saya ingin membaca buku lebih baru yang berhubungan dengan MI dan berbagi infonya dengan anda, dan review ini dapat menjadi referensi bagi anda yg memerlukan informasi dasar teorinya.

Menurut penulisnya, penulisan buku ini diawali oleh sebab yang tidak biasanya. KLIK DISINI lanjutan: Merintis Teori Kecerdasan Berganda (Review buku: Frames Of Mind, The Theory of Multiple Intelligences of Howard Gardner)

Buku panduan untuk menyekolahkan anak dirumah? (review buku “The Home School Manual” of Theodore E. Wade, Jr.)

Diantara teman-teman saya, paling tidak ada tiga keluarga yang memutuskan untuk menyekolahkan sendiri anaknya di rumah. Tanpa terhindar, sewaktu-waktu saya terpikir akan berbagai macam motivasi yang melatar belakangi pengambilan keputusan ini. Termasuk mengapa sampai timbul keperluan bagi sebuah keluarga untuk menyekolahkan putra-putrinya di rumah. Pro dan kontra dari teman-teman yang lainnya juga sangat beragam, baik yang positif maupun negatif. Semua info “was-wis-wus” yang saya dengar, tidak berhasil membuat saya untuk bisa menarik kesimpulan sedikitpun tentang hal ini. Jadi bermodalkan rasa ingin tahu, saya memutuskan untuk mempelajari hal ini lebih jauh dari sumber yang lebih legitimate, buku panduannya.  

……buku ini disajikan dengan cara yang menurut saya kreatif, menolong, dan unik, dalam usaha menuntun setiap pembacanya mengeksplorasi isi buku. Cara tersebut dinamakan “Tour”…..

Perpustakaan, tempat yang baik untuk belajar dan mengajar..

 

Sebelum melanjutkan, saya ingin anda mengetahui bahwa disamping alasan tadi, pada waktu yang sama, saya juga mempunyai misi yang sejalan. Dari interaksi saya dengan teman-teman di tanah air, banyak juga para orangtua di Indonesia yang saat ini berminat untuk mempelajari tentang seluk-beluk home school. Pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan hal ini bermunculan bagaikan jamur dimusim hujan (atau di kebun-kebun jamur di pegunungan). Tentu saja bagi teman pembaca di tanah air, buku ini tidak bisa begitu saja dipakai secara leterlek, dan lebih merupakan bahan perbandingan terhadap prinsip-prinsip home school yang ada di Indonesia. Mari belajar bersama, tentang homeschooling disisi lain dari belahan dunia dari tanah air kita tercinta.

 

Diantara buku-buku panduan home school yang ada di perpustakaan, saya membawa pulang buku ini. Buku ini saya pilih karena gampang terlihat dari ukurannya yang besar, tebal, dan sekilas daftar isinya paling lengkap (bukan alasan yang terakurat untuk memilih buku?). Saya pikir, saya akan belajar tentang home school mulai dari buku “setebal bantal” ini, dan berusaha KLIK DISINI lanjutan: Buku panduan untuk menyekolahkan anak dirumah? (review buku “The Home School Manual” of Theodore E. Wade, Jr.)

Jawaban artikel: Bukan Sang Putri Orbitan Walt Disney

Apel merah pembawa petaka

Para kurcaci kembali dari bekerja dan menemukan Snow White tergeletak mati. Mereka tidak menguburnya, karena Snow White bagi mereka hanya terlihat seperti tidur. Tubuhnya disimpan dipeti kaca oleh para kurcaci dan diletakkan dipuncak bukit. Sang pangeran memohon para kurcaci untuk boleh membawanya ke istana, dengan bayaran apapun di dunia [...]

Bukan Si Putri Salju orbitan Walt Disney? (Dari “Snow White & The Seven Dwarfs, A Tale From The Brothers Grimm” by R.Jarrell)

Pssstt…orang Jerman bilang, Putri Salju tidak pernah di-sun sang pangeran..!!

Tau Putri Salju kan??

Ceritanya begini. Adalah seorang putri, di negri antah-berantah yang telah kehilangan ibunya dimasa kecil. Ayahnya, sang raja, memilih untuk menikah lagi dengan seorang wanita yang sangat cantik. Sang wanita yang telah dipersunting menjadi ratu tersebut begitu cantiknya, namun kecantikannya ternyata tidak pernah membuatnya merasa “Pe-De.”

Setiap hari sang ratu bertanya pada cermin ajaibnya:

“Hai cermin ajaib…siapakah yang tercantik diseluruh negri..??”

Setiap hari pula sang cermin menjawab dengan jujurnya:

“Engkaulah yang tercantik diseluruh negri, baginda ratu..”

Demikianlah yang selalu berlangsung.  Sang putri cilik tumbuh berkembang, hingga suatu hari, saat sang ratu bertanya pada cermin ajaibnya, tanpa disangkanya, sang cermin memberikan jawaban berbeda:

“Punteen…baginda ratu, bahwa kini Putri Salju adalah yang tercantik..”

Haaah, sang ratu sangat murka, dan menyusun rencana untuk membunuh anak tirinya itu…demikianlah, cerita kemudian berlanjut…

Snow White And The Seven Dwarfs, A Tale From The Brothers Grimm. 2nd ed. 1973

Rupanya saya sedang rindu membaca buku dongeng. Waktu saya masih kecil, saya menyukai semua buku saya, namun secara khusus saya sangat suka membaca buku tentang dongeng tradisional, baik negri dalam maupun luar negri. Bagi saya, dongeng sangat berbeda dengan buku cerita biasa yang kebanyakan menceritakan tentang kisah sehari-hari, atau cerita sejarah tentang kejadian beberapa waktu yang lalu. Dongeng dapat membawa saya menembus ruang dan waktu sangat jauh, ke dunia yang berbeda, pada masa yang jauh berbeda juga. Pada saat itu, buku dongeng yang saya miliki, sangat terbatas jumlahnya, sehingga cerita-cerita dongeng tersebut saya dengar dan dapatkan dari majalah anak-anak.

Di negara-negara berbahasa Inggris, dongeng disebut juga fairy tales. Lima hari yang lalu, sambil mencarikan buku untuk anak saya, saya juga mencari buku-buku jenis ini. Kebanyakan buku dongeng yang ada saat ini merupakan bentuk-bentuk adaptasi, seringkali telah dimodernisasi dari dongeng aslinya. Kemudian saya menemukan buku ini, Snow White and The Seven Dwarfs.

Di tanah air kita, Snow White dikenal dengan nama “Putri Salju.” Buku yang saya temukan memuat kisah ini berjudul “Snow White and The Seven Dwarfs” yang bila diterjemahkan perkata akan menjadi “Putih Salju dan Tujuh Kurcaci.”

Kata-kata “Putri” tidak pernah ada dijudulnya. KLIK DISINI lanjutan: Bukan Si Putri Salju orbitan Walt Disney? (Dari “Snow White & The Seven Dwarfs, A Tale From The Brothers Grimm” by R.Jarrell)