Bergabunglah ke Facebook fanpage "MEMBACA DI NEGRI PAMAN SAM" (MDNPS) dan Facebook group "Friends of MEMBACA DI NEGRI PAMAN SAM." Dapatkan kiriman artikel terbaru dan update berbagai program yang sedang berlangsung di MDNPS secara cepat dan mudah.

To School or Not To School, Disekolahin atau…?? (Review buku Howard Gardner’s “The Unschooled Mind”)

Pada saat saya mengetik halaman kedua dari review yang sedang anda baca ini, saya baru tersadar kalau sepanjang proses membaca dan menuliskan pemikiran saya tentang buku ini, saya belum pernah menemukan bagian yang menyatakan tujuan dan motivasi sang author untuk menulis buku ini. Sambil setengah heran, saya berhenti mengetik, kembali ke bagian awal dari buku ini, dan menelusurinya kata perkata. Tetap tidak ada kata “this book is written…for…because…why..,” atau kata apa saja yang akan memberi petunjuk dan memudahkan saya untuk mengetahui mengapa buku ini ditulis (doh!). Setelah kali ke tiga mata saya menelusuri bagian pembukaan buku ini, akhirnya saya memutuskan kalau buku ini pada dasarnya adalah perwujudan dari perluasan sebuah essay yang telah dibuat sebelumnya, tentang topik terkait…

Kesimpulan itu saya ambil setelah membaca kalimat ini dihalaman acknowledgement:

“I owe a special debt to Stephen Granbard who commissioned an essay on this topic and encouraged me to expand the resulting paper into book form..” (xi).

Okay, saya cukup puas, karena alasan itupun buat saya cukup masuk akal bagi seseorang untuk menulis sebuah buku, apalagi sebuah yang berbobot seperti ini. Paling-paling saya berharap bahwa kata-kata “book” yang disebut dalam kalimat itu memang buku ini, dan Gardner tidak sedang membicarakan buku lain (just kidding!).

Dengan didasari pemikiran ini, saya lanjut mengetik, dalam usaha saya mengajak anda untuk mengintip isi buku bertema pendidikan yang judulnya kedengaran seperti kebalikannya ini.

“Pikiran yang enggak disekolahin!?……”

Kata-kata itulah yang secara polos muncul di kepala saya, saat saya membaca judul buku ini untuk pertama kalinya. Buku ini adalah salah satu dari banyak buku bermutu yang ditulis seorang pakar di dunia psikologi pendidikan, Howard Gardner. Bila anda ingin mengetahui sedikit tentang Gardner, silahkan membaca review buku pertamanya yang berjudul “Frames of Mind,” yang tersedia juga di site ini.

“The Unschooled Mind” adalah buku ke-6 yang ditulis Gardner.

penyangga masa depan bangsa

Bab pertama dari buku ini (tentu saja) berjudul Introduction. Bab ini membicarakan konsep belajar secara umum. Termasuk pembahasan tentang konsep dasar “intuitive learning” (pembelajaran alami) dan “scholastic learning” (pembelajaran melalui lembaga pendidikan/terstruktur).

Di bab ini Gardner juga menyebutkan tentang hadirnya suatu fenomena belajar saat sebagian anak yang memiliki kemampuan belajar secara intuitif yang sangat tinggi, menunjukkan kemampuan yang sangat berbeda pada saat dihadapkan pada situasi belajar scholastic.

Situasi kebalikannya adalah saat seorang pelajar yang mampu mendemonstrasikan kemampuan akademik yang sangat tinggi dalam format ujian sekolah, gagal menunjukkan kemampuannya, bahkan untuk pertanyaan-pertanyaan yang sangat mendasar, hanya karena bentuk pertanyaan atau lembar soalnya mengalami modifikasi.

Menurut Gardner, di dunia belajar-mengajar juga terdapat perbedaan antara konsep “understanding” (sekedar ngerti, sesuai kondisi yang disituasikan), dengan “genuine understanding” (sungguh-sungguh mengerti, dan dapat mendemonstrasikan ilmu yang didapat pada situasi apapun). Keterbatasan pemahaman pada suatu konsep seperti ini disebut Gardner dengan istilah “Blind Spot” dalam proses belajar.(Hal 1-6)

Tiga karakter yang akan banyak dipakai dalam berbagai pembahasan didalam buku ini:

1.Pertama, “The intuitive learner.”

Sering juga dikenal sebagai pembelajar alami, naif, universal.

2.Kedua, “The traditional learner” atau “Scholastic learner.”

Yaitu golongan usia muda, yaitu dari umur 7 sampai kira-kira 20 tahun yang berusaha untuk menguasai literatur, konsep, dan cabang-cabang keilmuan lain yang diberikan oleh sekolah yang merupakan lembaga dengan sistem pendidikan yang terstruktur.

3.Tiga, “The disciplinary expert” (Skilled person).

Yaitu seseorang yang (pada usia berapapun) telah menguasai suatu konsep ilmu dan aplikasinya, dan dapat menerapkan konsep tersebut pada berbagai kondisi yang baru atau berbeda.

(Hal 6-7)

Selepas dari bab I (Introduction) tadi, keseluruhan isi buku ini kemudian akan dikelompokkan menjadi tiga bagian besar.

Part I. Berjudul: The Natural Learner (Pembelajar Alami)

Berisikan:

Bab 2. Konseptualisasi perkembangan pikiran manusia

Bab 3. Permulaan proses pembelajaran: Batasan dan kemungkinannya.

Bab 4. Pengenalan dunia melalui simbol-simbol.

Bab 5. Dunia anak usia prasekolah: Munculnya konsep pengertian intuitif.

Part II. Berjudul: Understanding Educational Institution ( Memahami Institusi Pendidikan)

Berisikan:

Bab 6. Nilai-nilai dan tradisi di dunia pendidikan.

Bab 7. Sebuah Institusi yang bernama sekolah.

Bab 8. Kesulitan-kesulitan yang terjadi di sekolah: Kesalah-fahaman yang terjadi di berbagai bidang ilmu pengetahuan.

Bab 9. Lebih Jauh pada kesulitan-kesulitan yang terjadi di sekolah: Stereotipisme di bidang ilmu-ilmu sosial dan ilmu-ilmu humanistik (seni, bahasa, filosofi, dll)

Part III.Berjudul: Toward Education for Understanding (Menuju Pendidikan [berkonsep] Pemahaman)

Berisikan:

Bab 10. Pencarian solusi: Jalan yang buntu dan jalan yang menjanjikan

Bab 11. Pendidikan dengan konsep pemahaman di tahun-tahun pertama anak.

Bab 12. Pendidikan dengan konsep pemahaman di usia adolesen (usia peralihan anak ke dewasa)

Bab 13. Menuju [konsep] pemahaman tingkat nasional dan global.

Didalam buku ini, Gardner juga mengingatkan kembali bahwa setiap pelajar akan memiliki cara terbaiknya masing-masing yang berbeda-beda satu sama lain dalam mempelajari, mengingat, menampilkan, dan memahami sesuatu konsep. Hal ini juga berhubungan dengan teorinya yang terkenal sebagai “tujuh kecerdasan manusia,” yang telah beliau perkenalkan didalam buku yang ditulis sebelumnya (Frames of Mind). Kekuatan masing-masing individu dalam setiap area kecerdasan ini berbeda-beda, dan dikenal dengan istilah “profil kecerdasan.” (Hal 12)

Beberapa poin menarik bagi saya saat membaca buku ini:

  • Pembahasan tentang usia anak mulai bersekolah. Terdapat di bab 5, dimana dikatakan; bahwa di Swedia banyak sekali anak-anak balita yang diikut-sertakan dalam program-program prasekolah. Namun di sana (paling tidak sampai pada saat buku ini ditulis), bahan-bahan pelajaran yang berhubungan dengan literasi sekolah, tidak akan diberikan sebelum anak mencapai umur 7 tahun. Sebaliknya di Cina (PRC/People Republic of China), pada usia sedini 3 tahun, anak-anak malah telah diajarkan notasi musik. Karakter tulis menulis juga telah diperkenalkan pada saat anak berusia 4 atau 5 tahun.  Amerika Serikat sendiri menunjukkan tingkat keragaman yang sangat tinggi. Dimulai dari Glenn Doman’s Institute of Human Potential yang telah memulai mengajarkan anak untuk membaca dengan kartu bergambar bahkan sebelum seorang anak lancar berjalan. Sampai pada sekolah-sekolah yang berorientasi dan sangat percaya pada konsep perkembangan, dimana seorang anak tidak akan diajarkan membaca sampai mereka sendiri yang menunjukkan inisiatif untuk mulai melakukannya.(Hal 84)
  • Keterbatasan pemahaman materi dapat menimbulkan bias. Contohnya pada pelajaran sejarah, dimana pelajar (dan kebanyakan orang pada umumnya) akan membicarakan situasi kompleks internasional selama perang dunia (WWI & WWII) dalam bentuk “lakon orang baik melawan orang jahat” semata, bahkan membanding-bandingkannya dengan adegan-adegan dalam film-film populer Hollywood (doh!..again). Contoh kedua adalah ketidakmampuan seseorang untuk membedakan hasil pekerjaan seorang amatir dan master, saat identitas dari pembuat karya tersebut di sembunyikan. (Hal 4)

 

Demikianlah sekelumit pandangan saya tentang isi buku ini. Bagi saya buku ini telah memberikan alternatif cara pandang tentang kondisi sistem pengajaran di dunia sekolah yang telah kita kenal. Dan seperti juga yang telah beliau siratkan pada buku-bukunya yang lain, Gardner selalu mampu membuat setiap pelajar, baik para pelajar lembaga pendidikan maupun “pelajar-pelajar kehidupan,” menjadi merasa spesial dan terpahami. Diakhir setiap masa sekolahi, terutama setelah dewasa, saya sendiri menemukan bahwa peribahasa yang pernah saya dengar berikut ini selalu benar adanya:

“Hasil pendidikan itu adalah apa yang telah tertinggal di kepala kita, jauh sampai pada saat kita telah meninggalkan kelas..” (Albert Einstein)

 

Referensi:

Gardner, Howard. The Unschooled Mind: How Children Think & How School Should Teach. 1991. Basic Book: New York. 303+xii pages.

*Foto pelajar oleh Des Syafrizal

*Review buku ini ditulis untuk memenuhi permintaan teman saya, Vega. Terima kasih atas requestnya ya Gy,  semoga membawa manfaat..

————————–

Saat Saya Menulis:

 

Saat saya menulis review ini, saya sedang duduk di ruang makan Mrs. Ramirez. Keluarga Ramirez berasal dari Meksiko dan memiliki anak bernama Eduardo (5 tahun) yang duduk dikelas taman kanak-kanak yang sama dengan anak saya. Sebagai sesama anak imigran minoritas, Adam dan Eduardo yang seumur dan sama-sama sedikit pemalu, menjadi dekat dan bersahabat. Mereka sering sekali bermain bersama. Seperti hari ini, saat turun dari bus sekolah, anak saya langsung meminta saya untuk mengantarnya ke rumah Eduardo untuk berenang dan bermain bersama. Setelah menyelesaikan masak untuk hari ini, saya baru bersedia berangkat dengan mengangkut buku dan laptop saya ke ruang makan keluarga Ramirez yang sangat ramah dan bersahabat ini. Saya juga ingin menyelesaikan ketikan ini yang sudah terlalu lama tertunda berbagai kesibukan. Komputer yang baru “sehat” setelah rusak selama tiga minggu, ditambah beberapa hari terakhir ini saya sibuk mengantar tamu dari Indonesia keliling berbagai tempat wisata seputar daerah New England. Namun di sisi lain, semua kegiatan itu telah memberikan saya semacam “liburan kecil,” jadi saya nikmati saja, menjadi penulis, ibu, dan tuan rumah.

It’s a wonderful feeling.

V.h.a.p

 

Leave a Reply

  

  

  

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>