Bergabunglah ke Facebook fanpage "MEMBACA DI NEGRI PAMAN SAM" (MDNPS) dan Facebook group "Friends of MEMBACA DI NEGRI PAMAN SAM." Dapatkan kiriman artikel terbaru dan update berbagai program yang sedang berlangsung di MDNPS secara cepat dan mudah.

Sinbad I (Kisah Seribu Satu Malam)

Pada jaman Khalifah Harun Al-Rashid berkuasa di Bagdad, hiduplah seorang buruh pengangkut yang sangat miskin bernama Hinbad.

Disuatu hari yang begitu panasnya, saat matahari bersinar tanpa ampun dan permukaan tanah seperti membakar saat dipijak, seperti biasa Hinbad harus memindahkan berkarung-karung barang milik tuannya yang berat dan banyak melintasi kota.

Saking lelah, lapar, dan hausnya, Hinbad tidak mampu lagi melanjutkan langkahnya. Perjalanannya belum pula setengah selesai. Gerobak reot berisikan tumpukan barang bawaannya tergeletak begitu saja di pinggir jalan, di samping sebuah bangunan yang begitu besar yang bayangannya saja mampu memberikan perlindungan yang cukup dari keterikan matahari yang menyiksa. Kemudian tersipuh ia dan beristirahat ditempat yang sejuk itu.

Pada saat itulah, Hinbad menyadari bahwa rumah besar megah yang memberikan ia tempat berteduh itu begitu indahnya layaknya sebuah istana. Pelataran jalan sekitar istana itu dilapisi bebatuan indah menebarkan wangi bunga mawar yang semerbak. Angin berhembus semilir menyejukkan membawa serta berbagai bebauan bunga, rempah segar, dan aroma makanan yang enak-enak. Dari jendela yang sama terdengar juga irama musik padang pasir yang begitu merdu.

Hinbad merasa telah mendapatkan tempat beristirahat yang tepat.

Sinbad dan telur burung Roc, di pelayarannya yang kelima

 

Pasti sedang ada pesta, pikirnya.

Siapakah pemilik tempat ini? Pikirnya lagi.

Ingin tahu, Hinbad memberanikan diri untuk bertanya pada seorang pengawal penjaga pintu.

Pengawal itu ganti bertanya, dan kelihatan sangat terkejut menanggapi kepolosan Hinbad:

 

“Tidakkah kamu tahu bahwa pemilik bangunan megah ini adalah Yang Mulia Sinbad, sang pelayar terkemuka yang karena keperkasaannya dalam mengarungi lautan di seluruh penjuru bumi ini, jadi begitu tersohor dan bergelimang harta??…”

Oo, Hinbad kemudian teringat akan berbagai kisah hebat yang ia dengar selama ini tentang kekayaan Sinbad.

Serta merta ia merasa begitu iri akan kemakmuran sang pemilik istana.

 

Merasa cemburu dan frustasi, Hinbad menengadahkan kepalanya, menghadapkan wajah ke langit dan berseru:

“Wahai Tuhan Yang Maha Besar, dimana keadilanMu !!?…

Saya yang bermandikan peluh, bekerja keras tiap hari, hidupnya tetap melarat dan sial terus-menerus…

Sementara Sinbad sang pemilik rumah mewah megah ini, hidup bergelimang kemakmuran..!!

Enak-enakan menikmati keberuntungannya…

Apa salah saya, sehingga saya jadi bernasib malang seperti ini…?” Lanjutnya memelas.

Lantang benar ia mencurahkan protesnya ke angkasa, saat tiba-tiba disampingnya telah berdiri seorang pengawal, yang berkata:

“Yang Mulia Sinbad ingin berbicara denganmu…mari ikut!”

 

Hinbad yang ingat perbuatannya barusan, menjadi ketakutan.

“Bagaimana dengan barang-barang saya ini…?? Nanti hilang…?!” Katanya menghindar.

“Jangan kuatir, akan ada yang menangani…!” Sergah sang pengawal, tegas.

Hinbad menyimpulkan kalau kata-katanya yang keras tadi pasti telah membuat Yang Mulia Sinbad marah besar. Kepingin lari saja, tetapi sang pengawal kekar itu mencengkram tangannya dengan sangat kuat. Sadar akan ketidakberdayaannya, akhirnya ia memutuskan untuk menurut.

Bagian dalam istana itu lebih besar dan lebih indah lagi dari yang ia bayangkan.

Dimana-mana terlihat meja-meja penuh hidangan yang menggiurkan. Di tempat kehormatan, duduk seorang lelaki tua berperawakan tinggi besar, berjanggut putih panjang, dan terlihat sangat berwibawa. Lelaki tua tersebut adalah Yang Mulia Sinbad itu sendiri. Masih dalam suasana ketakutan, Hinbad bertambah gentar saat laki-laki tua itu menggangkat tangan seperti memberikan sinyal, dan memanggilnya mendekat.

Dari dekat terlihat bahwa Yang Mulia Sinbad ternyata telah menyediakan tempat khusus untuknya, dengan berbagai hidangan lezat tersaji dihadapan.

Diluar dugaannya pula, Yang Mulia menyambutnya dengan sangat baik, dan menjelaskan bahwa ia dan semua orang yang hadir disitu benar-benar senang akan kehadiran Hinbad.

“Saudaraku, jangan takut…memang tadi saya lewat dekat jendela dan menyaksikan apa yang terjadi. Tapi saya memanggilmu kesini bukan untuk menyusahkanmu atas perkataanmu tadi, saya kasihan dan ingin menolong. Tapi saya juga berpikir, terlebih dahulu saya perlu menjelaskan duduk perkara perolehan harta kekayaan yang kau lihat ini. Mungkin engkau berpikir kalau harta saya ini telah diperoleh dengan begitu mudahnya. Namun sebaliknya, semua ini saya peroleh setelah bertahun-tahun mengatasi kesulitan, menghadang mara bahaya, yang luar biasa di darat dan di laut, yang saya yakin tidak sama sekali tidak akan terbayangkan olehmu…”

 

Yang Mulia Sinbad melanjutkan penuturannya.

“Dan juga untuk anda semua yang hadir, tamu yang saya hormati… Saya jamin, kisah tentang Tujuh Pelayaran yang akan saya ceritakan ini, akan mampu berubah niat para pencari harta yang paling serakah sekalipun..

Nah sekarang, saya akan menceritakannya sendiri secara langsung kepada anda, agar semuanya menjadi jelas dan puas…”

Sebelum memulai ceritanya itu, Yang Mulia Sinbad memerintahkan para pelayannya untuk mengirimkan semua barang bawaan Hinbad, ketujuannya masing-masing. Hal itu dilakukan agar tamunya itu bisa dengan tenang menikmati hidangan, sambil mendengarkan penuturannya tentang Tujuh Pelayaran Sinbad melayari negri-negri sejauh mana matahari masih bersinar.

* * *

 

BERSAMBUNG DI ARTIKEL: “SINBAD, PELAYARAN PERTAMA”

Saran dari Vhap: Silakan bacakan dongeng ini untuk anak/kerabat anda disebuah momen kedekatan keluarga, boleh sambil diiringi musik padang pasir yang lembut. Boleh juga sambil diadakan pesta kostum kecil-kecilan, dimana sang anak dibiarkan untuk mendandani dirinya sendiri (dari apa yang ada dirumah) dan “berpenampilan” layaknya sang pelayar ulung.

 

 

Sumber:

Lang, Andrew. “Tales from The Arabian Nights.” 1991. Reader’s Digest. Pleasantville: New York. 303hlm.

 

Illustrasi 1:

An episode from the 5th voyage of Sinbad the Sailor in the “One Thousand and One Nights”. Illustration from “Les Mille et une nuits”, par Galland – Paris, 1865.

Illustrasi 2:

Foto cover buku acuan.

 

 

 

Semoga Bemanfaat,

Vhap.

 

 

 

2 comments to Sinbad I (Kisah Seribu Satu Malam)

Leave a Reply to admin Cancel reply

  

  

  

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>