Bergabunglah ke Facebook fanpage "MEMBACA DI NEGRI PAMAN SAM" (MDNPS) dan Facebook group "Friends of MEMBACA DI NEGRI PAMAN SAM." Dapatkan kiriman artikel terbaru dan update berbagai program yang sedang berlangsung di MDNPS secara cepat dan mudah.

“Siapa Yang Salah?..” (Dongeng Indonesia Go Internasional 3)

Didalam buku “Folk and Fairy Tales of Far-off Lands” terbitan Duell, Sloan, & Pearce New York affiliated of Meredith Press (1965), kisah ini diberi judul “Who Is To Blame”. Kisah ini disebutkan berasal dari Sumatra. Pesan moral dari kisah ini adalah bahwa sebuah perilaku buruk, dapat memicu terjadinya perilaku buruk lainnya.

Beribu tahun yang lalu, adalah sebuah kerajaan dimana semua binatang hidup dengan damainya. Suatu hari ibu berang-berang kepingin sekali makan daging lobster. Terbayanglah ia akan daging lobster yang begitu empuk dan lezat. Segera ia teringat akan suatu cekukan di tepi aliran sungai, tempat hidup lobster-lobster muda yang begitu menggiurkan. Sambil terus membayangkan kelezatannya, bu berang-berang memutuskan untuk pergi kesana. Sebelum pergi ia menitipkan dan berwanti-wanti pada si kijang untuk menjaga keselamatan bayi-bayinya sampai waktu ia kembali. Setelah yakin anak-anaknya akan baik-baik saja, berang-berang berenang pergi.

buku dongeng dari tahun 60an

Malang tak dapat ditolak, tak lama begitu bu berang-berang pergi, sang kijang mendengar gemuruh genderang perang yang berasal dari hutan. Sebagai panglima baris-berbaris kerajaan, saat itu juga sang kijang secara sigap melakukan gerakan baris-berbaris sebagai persiapan untuk berangkat berperang. Saat melakukannya, secara tak sengaja semua bayi sang berang-berang terinjak-injak dan mati.

Beberapa jam kemudian bu berang-berang kembali dan menemukan nasib tragis yang telah menimpa anak-anaknya. Ditengah duka dan amarahannya langsung saja ia berteriak menuding:

“Kijang!..mengapa telah kau bunuh semua anak-anakku..?!!”

Sang kijang berusaha menerangkan apa yang terjadi dengan sehati-hati mungkin, bahwa semuanya adalah kecelakaan yang tidak disengaja, namun sia-sia. Bu berang-berang kemudian mengadukan hal ini kepada raja demi menuntut agar sang kijang diadili dan dihukum seberat-beratnya.

“Yang mulia..” Kata bu berang-berang sambil menyembah Raja Sahab yang sangat bijaksana.

“Ada masalah apa gerangan?..” Sabda sang raja.

“Baginda Raja Sahab..sang kijang telah membunuh semua anak-anak saya..tolong hukum dia..” Terang sang berang-berang.

Sang raja berpikir sejenak dan berkata:

“Kalau kijang telah melakukannya dengan sengaja, memang harus dihukum dengan seberat-beratnya..”

Segera sang kijang diseret kehadapan raja dan ditanya:

“Benarkah hal ini wahai kijang??..”

“Benar yang mulia..tetapi saya tidak sengaja, dan saya memohon pengampunan..” Kijang membela diri.

“Tapi mengapa kau lakukan?..” Tanya sang raja.

“Karena saya melihat si burung pelatuk mengumandangkan lagu peperangannya. Sesuai tugas saya maka saya sontak baris-berbaris dan secara tidak sengaja menginjak-injak semua anak bu berang-berang yang berkumpul dekat-dekat dengan saya..”

Sang raja kemudian memanggil si burung pelatuk dan menanyakan perihal nyanyian perangnya.

Burung pelatuk menjawab:

“Yang mulia..tentu saja saya melakukannya, karena saya melihat si kadal besar mengeluarkan bilah pedang tempurnya..”

“Baiklah..kalau gitu kau burung pelatuk, tidak bersalah, sekarang panggilkan kadal besar ke sini..” Sabda sang raja lagi.

“Mengapa kau menghunus pedang tempurmu hai kadal?..”

“Benar Yang Mulia, saya memang melakukannya tetapi hal itu juga karena saya melihat si kodok bertanduk bersiap dengan mengenakan perisai perangnya..” jelasnya.

Giliran selanjutnya adalah si kodok bertanduk untuk ditanyai. Si kodok kemudian mengatakan bahwa ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri bahwa si kepiting telah mempersenjatai dirinya dengan pedang trisula dan terlhat sudah sangat siap berperang.

“Benarkah itu kepiting?..” Tanya Sang Raja Sahab pada si kepiting yang menjadi ketakutan.

“Ya itu benar Yang Mulia, tapi semua itu semata-mata karena saya melihat si lobster mengeluarkan tombak pusaka dan meletakkannya dipundak dengan posisi siap tempur..”

Sekarang lobsterpun tiba dihadapan raja dan ditanyai.

“Lobster, benarkah kamu meletakkan tombak dipundak dengan perilaku yang jelas menunjukkan bahwa kamu akan pergi bertempur??…”

“Ya, saya memang melakukan hal itu Baginda…” Jawab lobster dengan wajah sedih.

“Dan mengapa hal itu kau lakukan?..” Kata baginda raja keheranan.

“Karena saya melihat berang-berang berenang ke cekukan tempat tinggal kami dan berniat untuk menelan anak-anak saya..” Jelasnya.

“Oh, jadi semuanya begitu rupanya..” Raja Sahab menjawab dengan wajah sedikit menahan geli.

Sang raja kemudian mengalihkan pandangannya ke berang-berang dan berkata:

“Tuntutanmu terhadap kijang tidaklah berdasar dan tidak bisa dilaksanakan. Engkaulah yang sebenar-benarnya bersalah atas tragedi yang telah terjadi ini, dan hukuman yang patut untuk itupun telah kau terima…”

 

Referensi:

Protter, Eric & Nancy. Folk and Fairy Tales of Far-Off Lands.1965. Duell, Sloan, & Pearce New York affiliated of Meredith Press. New York: New York. Page 192-196 of 196 pages.

 

21 comments to “Siapa Yang Salah?..” (Dongeng Indonesia Go Internasional 3)

Leave a Reply to petite chaudasse Cancel reply

  

  

  

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>