Bergabunglah ke Facebook fanpage "MEMBACA DI NEGRI PAMAN SAM" (MDNPS) dan Facebook group "Friends of MEMBACA DI NEGRI PAMAN SAM." Dapatkan kiriman artikel terbaru dan update berbagai program yang sedang berlangsung di MDNPS secara cepat dan mudah.

Come to School Mom…

farm fun

Seperti yang umum diketahui, perjalanan orangtua dalam membesarkan anak tidaklah selalu melalui jalan yang mudah dan sederhana. Berbagai sumber informasi yang tersedia, banyak baiknya. Cukup memberikan tuntunan akan apa yang sebaiknya dilakukan pada situasi tertentu. Tapi tepatnya kapan situasi itu? Tidak selalu tercakup. Saya ingin berbagi pengalaman pribadi. Adalah sebuah momen ringan dan sederhana, dimana saya belajar bahwa sewaktu-waktu sebagai orangtua, saya juga perlu untuk lebih mendengar dan memberikan kepercayaan pada anak. Diluar kenyataan bahwa tirai batasan itu tidak selalu nyata, untuk memberi petunjuk kapan sebaiknya mempertanyakan atau saatnya untuk percaya penuh dan mengikuti.

Sejak dua-tiga hari yang lalu, anak saya Adam berkali-kali mengingatkan saya untuk hadir di kelasnya dalam acara Winter Celebration tahun ini. Walaupun ia juga bilang bahwa gurunya meminta, tapi karena saya tidak mendapatkan pemberitahuan atau undangan tertulis, maka saya tidak mengiyakannya begitu saja.

Terutama untuk anak kelas 1 SD keatas, biasanya bila sekolah menghendaki ortu untuk datang, maka pihak sekolah akan mengirimkan surat undangan terperinci berupa sign-up paper (kalau bisa datang, silakan tanda tangani dan kembalikan ke sekolah). Hal tersebut merupakan cara pihak sekolah mengorganisir ketertiban dan keamanan. Acara-acara rutin tersebut antara lain School Open House, Parent-Teacher Conference, Student Science Fair, dll. Walaupun saya pernah menjadi volunteer tetap dimasa sekolah dasar anak pertama saya, namun untuk anak yang kedua ini saya baru hadir sebagai parent room asistant beberapa kali saja.

Singkat kata, setelah ngobrol panjang lebar, Adam tetap meminta. Tetap disertai penjelasan yang cukup menyakinkan. Untuk tidak mengecewakan sang buah hati, saya berkata:
“Oke Nak, Ibu akan datang ke sekolahmu, mengantarkan kartu ucapan tahun baru dan sedikit oleh-oleh akhir tahun untuk guru-gurumu. Tapi kalau sekolah bilang bahwa ortu tidak diminta datang, maka Ibu akan pulang…Oke??”
“Oke Bu…” Setujunya.

Pagi hari kamis.
Masih dengan pertanyaan dihati, saya berketetapan untuk belanja dadakan dan langsung mengantarkannya ke sekolah. Selain karena memang belum melakukannya, berangkatnya saya juga akhirnya adalah karena didorong oleh kehadiran sebuah memo. Memo itu ditulis tangan dan saya temui tertempel dipintu kulkas kami pagi ini.

Sampai disekolah, ogah-ogahan saya menekan bel pintu untuk diijinkan masuk. Diluar dugaan, begitu saya sampai diruang kantor, seisi kantor sekolah menyapa dengan riang:
“Hai! Selamat liburan akhir tahun ya Mrs. Shap. Anda kesini untuk hadir dikelasnya Adam bukan??..”
“Emm…..benar ada gitu Mrs. Hill?, dan saya….” Kata saya dan belum selesai…,
“Tentu-tentu! silahkan, langsung saja!!”

Tanpa isi daftar tamu segala, yang biasanya harus, saya dapat “pass” masuk.
Saya terkesima, berjalan ke kelas anak saya dan berpikir akan apa yang akan saya katakan pada guru kelasnya nanti. Begitu sampai dipintu kelas, saya baru mau buka mulut saat Ms. Connely langsung menyambut:
“Hai Mrs. Shap! Come in..the pizza is not here yet, but everything else are ready…”
Maka masuklah saya, mengucap salam pada anak-anak sekelas termasuk Adam yang terlihat begitu gembira menyambut ibunya.
Tidak ada orangtua yang lain, room parentnya juga belum datang. Saat itu hanya saya yang membantu guru dalam mempersiapkan dan melaksanakan acara istimewa bagi murid-murid hari itu, seawal jam sekolah mulai. Lewat tengah hari Mrs. Martone, sang room parent baru datang.

Baik program belajar hari itu maupun pesta kelasnya berjalan dengan lancar, alhamdulillah, semua bergembira.
“Selamat libur sekolah, selamat tahun baru!!..”
Semua saling melambaikan tangan.
Sebelum saya meninggalkan kelas, Ms. Connely sang wali kelas memegang tangan saya. Ia memberikan jinjingan buah tangan untuk saya, dan berkata:
“Mrs. Shap, thank you for all your help, I don’t know what I’m gonna do without your presence today..”
“Your welcome Ms. Connely, it’s my pleasure..”

Dalam perjalanan pulang saya berkata:
“You were right Nak,”
Duduk di belakang, buah hati saya itu tersenyum manis sekali
“Kamu senang ya Ibu datang?..”
“Ya Bu, saya senang sekali..”

Sampai dirumah, kado dari gurunya tadi saya buka. Terdapatlah dua botol produk kecantikan dan sebuah handuk. Saya bersyukur sekali.
Di ruang makan, saya lirik lagi kertas memo dikulkas itu. Selembar kertas putih bergaris dengan goresan pesan sederhana, dari putraku yang berumur enam tahun, bertuliskan:

“Come to school Mom,”
Adam

Sometime parent just got to have more faith in their children. I love you my children. Thank you for the love and the lesson I learned today.

Semoga sharing ini membawa manfaat,
Shap

***

School Volunteer: Sukarelawan (umumnya dari ortu) yang bersedia membantu berbagai kegiatan di sekolah anaknya.
Parent Room: Orangtua (1orang) yang dipilih berdasarkan kesediaan untuk membantu guru dalam pengadaan acara-acara kelas.
Parent Room Asistant: Orangtua yang dipilih berdasarkan kesediaannya untuk membantu tugas-tugas Parent Room.
School Open House: Hari dimana sekolah dapat secara bebas dikunjungi.
Parent-teacher conference: Pertemuan orangtua murid dan guru.
Student Science Fair: Hari dimana para murid mempresentasikan karyanya untuk para orangtua dan seluruh sekolah.

Leave a Reply

  

  

  

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>