Warning: mysql_real_escape_string() expects parameter 2 to be resource, object given in /home3/boykekp/public_html/wp-includes/wp-db.php on line 1104

Warning: mysql_real_escape_string() expects parameter 2 to be resource, object given in /home3/boykekp/public_html/wp-includes/wp-db.php on line 1104
T a U u u !
Warning: mysql_real_escape_string() expects parameter 2 to be resource, object given in /home3/boykekp/public_html/wp-includes/wp-db.php on line 1104

Warning: mysql_real_escape_string() expects parameter 2 to be resource, object given in /home3/boykekp/public_html/wp-includes/wp-db.php on line 1104
Bergabunglah ke Facebook fanpage "MEMBACA DI NEGRI PAMAN SAM" (MDNPS) dan Facebook group "Friends of MEMBACA DI NEGRI PAMAN SAM." Dapatkan kiriman artikel terbaru dan update berbagai program yang sedang berlangsung di MDNPS secara cepat dan mudah.

Rasanya membaca & menulis resensi buku LEUKEMIA? (Challenging Fear)

Pengalaman saya membaca dan menulis resensi/review buku tentang Leukaemia/Leukemia sungguh unik sampai saya perlu untuk membuat tulisan terpisah tentang ini. Ini adalah kali pertama saya membaca buku tentang sebuah penyakit setara kanker yang ternyata banyaknya terjadi pada anak-anak. Hal ini juga karena saya memerlukan untuk membuat reviewnya yang ingin saya share kepada teman-teman pembaca saya.

Topik buku ini cukup (sangat) berbeda dengan buku-buku yang biasa dibaca para pembaca buku Indonesia pada umumnya, termasuk para pembaca artikel saya. Agak menyeramkan bagi orangtua malah, dan cenderung dihindari. Tapi saya tidak gentar, karena saya yakin informasi yang benar dari sumber yang benar akan selalu membantu bagi yang memerlukan lebih dari sekedar info populer dari sebuah majalah.

Walaupun prosentasinya yang sangat jarang (dari 1500 anak sakit cuma 1 yang ujung-ujungnya akan didiagnosa menderita leukemia – Lilleyman), tapi seperti halnya komentar seorang teman yang telah berbaik hati berbagi pengalamannya tentang teman sekolahnya dulu yang menderita, didunia nyata penyakit ini memang terjadi. Dan bagi seseorang yang seperti orang tua teman bu Hesti itu, hal ini bukan angan-angan atau apalagi penyakit antah-berantah.

 

Gonjang-ganjingnya perasaan saya saat menulis review buku Leukaemia  KLIK DISINI lanjutan: Rasanya membaca & menulis resensi buku LEUKEMIA? (Challenging Fear)

Review buku Leukaemia I. Childhood Leukaemia: The Facts

Dari penampakan fisik dan judulnya, saya menilai bahwa buku ini lebih merupakan handbook dibanding teksbook. Subjek buku ini adalah suatu hal yang jauh dari kesan pop atau kultur. Buku ini membawa bobot tersendiri.

Mungkin sama dengan anda, pertanyaan pertama saya saat membaca buku ini adalah mengapa “Leukaemia” dan bukan “Leukemia”?. Penyelidikan singkat saya kemudian menunjukkan bahwa buku ini adalah buku yang ditulis dan diterbitkan di Inggris, oleh penulis berkebangsaan Inggris, bukan Amerika. “Leukaemia” merupakan kata-kata British English sedangkan “Leukemia” adalah kata yang digunakan dalam American English. Untuk selanjutnya di dalam review buku saya ini, saya akan menggunakan kata “Leukaemia” untuk menghormati penulis buku ini.

Adalah kenyataan bahwa entah menggunakan sistem penyebutan manapun, “Childhood Leukaemia” (leukaemia pada anak) adalah sebuah penyakit yang menjadi momok, mimpi buruk, dan merupakan penyakit yang paling ditakuti orangtua diseluruh dunia. Bahkan dibagian pengantar buku ini dituliskan bahwa kata-kata “Leukaemia” sendiri adalah kata-kata yang paling ditakuti dari seluruh perbendaharaan kata-kata di dalam bahasa Inggris. Buku ini ditulis oleh John S. Lilleyman (saya singkat JSL). Pada saat buku ini beliau tulis (1994) JSL menyatakan bahwa penyakit ini sudah memiliki presentase penyembuhan sebesar 80-90% KLIK DISINI lanjutan: Review buku Leukaemia I. Childhood Leukaemia: The Facts

Cuplikan Intisari Buku “The Success Principles; How to Get from Where You Are, to Where You Want to Be,” by J. Canfield, ttg: Bayaran Kesuksesan

Untuk memperoleh kesuksesan apapun, seseorang harus mau “membayar” harga kesuksesan tersebut. Proses pembayaran kesuksesan itu bisa berupa pengorbanan waktu, tenaga, perhatian, harta, rasa sakit secara fisik, rasa sakit hati, termasuk tahan dianggap aneh karena kukuh dalam melakukan sesuatu secara terus menerus dan memprioritaskannya diatas hal-hal yang lainnya, dan lain sebagainya.

Kebanyakan orang sangat ingin menjadi sukses, namun tidak banyak orang yang bersedia menempuh “proses pembayarannya” tersebut.

Adalah Shun Fujimoto, seorang pesenam dari Jepang. KLIK DISINI lanjutan: Cuplikan Intisari Buku “The Success Principles; How to Get from Where You Are, to Where You Want to Be,” by J. Canfield, ttg: Bayaran Kesuksesan

Sinbad I (Kisah Seribu Satu Malam)

Pada jaman Khalifah Harun Al-Rashid berkuasa di Bagdad, hiduplah seorang buruh pengangkut yang sangat miskin bernama Hinbad.

Disuatu hari yang begitu panasnya, saat matahari bersinar tanpa ampun dan permukaan tanah seperti membakar saat dipijak, seperti biasa Hinbad harus memindahkan berkarung-karung barang milik tuannya yang berat dan banyak melintasi kota.

Saking lelah, lapar, dan hausnya, Hinbad tidak mampu lagi melanjutkan langkahnya. Perjalanannya belum pula setengah selesai. Gerobak reot berisikan tumpukan barang bawaannya tergeletak begitu saja di pinggir jalan, di samping sebuah bangunan yang begitu besar yang bayangannya saja mampu memberikan perlindungan yang cukup dari keterikan matahari yang menyiksa. Kemudian tersipuh ia dan beristirahat ditempat yang sejuk itu.

Pada saat itulah, Hinbad menyadari bahwa rumah besar megah yang memberikan ia tempat berteduh itu begitu indahnya layaknya sebuah istana. Pelataran jalan sekitar istana itu dilapisi bebatuan indah menebarkan wangi bunga mawar yang semerbak. Angin berhembus semilir menyejukkan membawa serta berbagai bebauan bunga, rempah segar, dan aroma makanan yang enak-enak. Dari jendela yang sama terdengar juga irama musik padang pasir yang begitu merdu.

Hinbad merasa telah mendapatkan tempat beristirahat yang tepat.

Sinbad dan telur burung Roc, di pelayarannya yang kelima

 

KLIK DISINI lanjutan: Sinbad I (Kisah Seribu Satu Malam)

Cuplikan Intisari Buku “The Art of Happiness” by Dalai Lama & H.Cutler, Tentang Mengatasi Rasa Marah & Benci.

Disarikan dari Bab 13 berjudul “Dealing With Anger & Hatred”

Batu penghalang dan penghancur kebahagiaan yang terbesar adalah amarah.

Hal ini sudah banyak sekali dibuktikan oleh para ahli.

Secara spiritual, amarah dapat memberikan perasaan sangat tidak nyaman, mengeruhkan penilaian seseorang, dan mengacaukan suatu hubungan.

Secara fisik, rasa marah itu sendiri, luapan kemarahan, dan tindakan permusuhan, secara khusus terbukti memberikan efek yang merusak sistem jantung bahkan melebihi faktor-faktor yang secara tradisional dianggap nomor satu, seperti tekanan darah tinggi atau high cholesterol.

Berlawanan dengan keyakinan banyak orang, meluapkan kemarahan terbukti tidak akan membuat kemarahan itu sendiri menghilang. Kemampuan untuk mengendalikan nafsu marah ini juga tidak KLIK DISINI lanjutan: Cuplikan Intisari Buku “The Art of Happiness” by Dalai Lama & H.Cutler, Tentang Mengatasi Rasa Marah & Benci.

Cuplikan buku: “Don’t Sweat Small Stuff for Women” by Kristine Carlson, ttg: Kunci Kebahagiaan dalam Karir

Disarikan dari buku bestsellernya yang berjudul “Don’t Sweat Small Stuff for Women” (bab ke-52), dimana Kristine Carlson berbagi ilmu tentang kebahagiaan dalam karir. Istilah “karir” yang dimaksud disini adalah profesi seseorang dalam hidup secara keseluruhan. Karir adalah profesi seseorang yang bekerja di sebuah kantor, pabrik, sekolah, kilang minyak, rumah sakit, dan lain sebagainya. Istilah karir juga ditujukan bagi seseorang yang sedang menjalankan studi, mengabdi di lembaga-lembaga sosial, seorang ibu/bapak rumah tangga, dan tentu saja juga bagi setiap orang yang menjalankan beberapa hal tersebut sekaligus.

Menurut KC, untuk menemukan kebahagiaan dan kesuksesan dalam berkarir, seseorang seyogyanya menggunakan:

1. Career as spiritual work. Menggunakan karir sebagai bentuk “spiritual work”. Spiritual work adalah suatu bentuk pekerjaan yang memiliki nilai batiniah. Tidak peduli pekerjaan apapun dan dimanapun.

2. Career as nourishing relationship. Setiap pekerjaan KLIK DISINI lanjutan: Cuplikan buku: “Don’t Sweat Small Stuff for Women” by Kristine Carlson, ttg: Kunci Kebahagiaan dalam Karir

Cuplikan buku “The Art of Happiness” by Dalai Lama & H.Cutler, ttg Mengatasi Keresahan & Membangun Rasa Percaya Diri

Cuplikan Chapter 14: “Dealing With Anxiety & Building Self-Esteem” (Mengatasi keresahan dan membangun rasa percaya diri)

Menurut Dalai Lama, dalam hal menangani rasa takut, yang pertama untuk diusahakan adalah untuk membedakan rasa takut itu sendiri. Rasa takut ada beberapa jenis. Sebagian adalah yang murni, berdasarkan pada alasan yang valid/fakta. Contohnya seperti perasaan takut pada kekerasan atau pertumpahan darah (yang akan terjadi). Hal-hal yang melambangkan sesuatu yang sangat buruk. Yang selanjutnya adalah rasa takut akan efek negatif yang ditimbulkan oleh sesuatu tindakan negatif, rasa takut sengsara, takut akan perasaan negatif itu sendiri, misalnya rasa kebencian. Rasa-rasa seperti ini adalah rasa takut yang benar, yang akan membawa kita menjadi seseorang yang penyayang/lembut hati. (Hal 266)

Disamping itu, ada rasa takut jenis lain, yaitu rasa takut yang diciptakan oleh diri sendiri. Seperti takutnya kita akan kegelapan kamar sewaktu kita masih kecil. Dalai Lama kemudian menceritakan tentang rasa takut luar biasa yang beliau miliki sewaktu kecil, saat tukang sapu dan para penjaga kuil menceritakan tentang kehadiran sebuah burung hantu yang setiap saat akan mencari, menangkap, dan menyantap anak-anak kecil yang berkeliaran. (267)

Bila situasi atau permasalahan yang terjadi dapat dipecahkan, maka kekhawatiran tidak akan diperlukan. Dalam kata lain, selama masih ada solusinya, seseorang tidak perlu merasa terbebani yang berlebihan. Di sisi lain, bila memang tidak ada jalan keluarnya, KLIK DISINI lanjutan: Cuplikan buku “The Art of Happiness” by Dalai Lama & H.Cutler, ttg Mengatasi Keresahan & Membangun Rasa Percaya Diri

“Komodo!” oleh Peter Sis, perjalanan pencarian “naga” si topi merah ke Indonesia

Peter Sis adalah seorang penulis, ilustrator, pelukis, dan pembuat film kaliber dunia. Beliau lahir di Brno, Chekoslovakia tahun 1949 dan menempuh pendidikan di Academy of Applied Arts (Praha-Chekoslovakia) juga di The Royal College of Art (London-Inggris). Saat ini Peter Sis menetap di New York, Amerika Serikat. Karya-karyanya termasuk dalam karya seni yang dipamerkan secara permanen di Museum of Modern Art New York. Beliau juga menulis dan membuat ilustrasi banyak buku anak yang telah memenangkan berbagai penghargaan di seluruh dunia. Karyanya digunakan di media massa periodik semacam New York Time, Time Magazine, Newsweek, dll. Salah satu contoh dari banyak penghargaan yang pernah diterimanya adalah Best illustrated Book of The Year dari New York Times Book Review sebanyak 6 kali.

Di artikel ini saya akan menceritakan kembali sebuah karya beliau yang cukup istimewa bagi saya. Pertama karena beliau menulis tentang komodo yang notabenenya adalah binatang yang begitu uniknya cuma ada di Indonesia. Sebuah buku anak yang sudah begitu terkenal di dunia pustaka Amerika Serikat. Di dunia internasional, komodo disebut sebagai “komodo dragon.” Padahal pengertian umum dragon yang kita kenal adalah sejenis naga. Jadi didunia internasional, karena satu dan lain hal komodo digolongkan sejenis “naga.” Sebab yang kedua adalah karena Peter Sis merupakan seseorang diantara yang jarang, yang benar-benar menulis cerita dan menggambar sendiri buku-bukunya dengan tingkat kualitas ilustrasi dan kedetailan yang luar biasa. Setelah menikah, Peter Sis dan istrinya memilih untuk berbulan madu di berbagai kepulauan di Indonesia. Kemungkinan, pengalaman itulah yang telah mengilhaminya untuk menulis buku ini..

 

*Di"crop" dari sampul buku "Komodo!"

Adalah seorang anak laki-laki. Ia yang tinggal disebuah kota yang penuh dengan gedung pencakar langit yang megah. Anak laki-laki itu secara sekilas sama saja dengan banyak anak laki lainnya di kotanya. Satu hal yang dapat membedakannya dari ratusan anak lainnya disekolah adalah kaos oblong dan topinya. Ia selalu menggunakan kaus putih bergambar naga hijau dan topi polos berwarna merah terang.

Uniknya, si topi merah berkaus naga selalu menyukai segala sesuatu yang berbau-bau naga. Kamarnya selalu penuh sesak oleh berbagai hal bertema naga. Dari mulai dekorasi figur boneka naga, lukisan naga, akuarium dan terrarium berisi binatang yang paling tidak menyerupai naga, berbagai buku, mainan, dan lain-lain sampai topeng-topeng bertema sama.

Melihat kecintaan anaknya yang besar pada segala sesuatu tentang naga, orangtua si topi merah memutuskan untuk membawanya berkunjung ke…Indonesia!.  Ke suatu tempat dimana “naga” benar-benar ada, yaitu Pulau Komodo. KLIK DISINI lanjutan: “Komodo!” oleh Peter Sis, perjalanan pencarian “naga” si topi merah ke Indonesia

“Perdebatan Sia-Sia” (Dongeng Indonesia Go Internasional 4)

Didalam buku “Folk and Fairy Tales of Far-off Lands” terbitan Duell, Sloan, & Pearce New York affiliated of Meredith Press (1965), kisah ini diberi judul “A Very silly Argument”. Sebuah dongeng tentang logika yang berasal dari Borneo/Kalimantan.

Dijaman prasejarah beribu tahun yang lalu, konon terjadilah sebuah perdebatan antara berbagai anggota tubuh. Perdebatan ini terjadi antara mulut, mata, kuping, hidung, tangan, dan kaki. Perdebatan ini terjadi begitu panjang dan berlarut-larut tanpa ada ujungnya.

Pada awalnya, Sang Mata-lah yang telah memulainya, dengan berkata:

buku dongeng itu

“Saya adalah Mata, bagian tubuh yang terpenting, karena saya mampu melihat kebenaran…” Katanya bersesumbar.

“Tidak benar!!…sayalah yang dapat mendengar dan mengetahui sesuatu, sebelum kalian semua..” Bantah daun Telinga dengan tegas.

Si Hidung merasa tidak terima dan berkata:

“Betul-betul..tapi saya telah mencium semuanya terlebih dahulu..”

“Salah-salah semuanya..” Kata Mulut, KLIK DISINI lanjutan: “Perdebatan Sia-Sia” (Dongeng Indonesia Go Internasional 4)

“Siapa Yang Salah?..” (Dongeng Indonesia Go Internasional 3)

Didalam buku “Folk and Fairy Tales of Far-off Lands” terbitan Duell, Sloan, & Pearce New York affiliated of Meredith Press (1965), kisah ini diberi judul “Who Is To Blame”. Kisah ini disebutkan berasal dari Sumatra. Pesan moral dari kisah ini adalah bahwa sebuah perilaku buruk, dapat memicu terjadinya perilaku buruk lainnya.

Beribu tahun yang lalu, adalah sebuah kerajaan dimana semua binatang hidup dengan damainya. Suatu hari ibu berang-berang kepingin sekali makan daging lobster. Terbayanglah ia akan daging lobster yang begitu empuk dan lezat. Segera ia teringat akan suatu cekukan di tepi aliran sungai, tempat hidup lobster-lobster muda yang begitu menggiurkan. Sambil terus membayangkan kelezatannya, bu berang-berang memutuskan untuk pergi kesana. Sebelum pergi ia menitipkan dan berwanti-wanti pada si kijang untuk menjaga keselamatan bayi-bayinya sampai waktu ia kembali. Setelah yakin anak-anaknya akan baik-baik saja, berang-berang berenang pergi.

buku dongeng dari tahun 60an

Malang tak dapat ditolak, tak lama begitu bu berang-berang pergi, sang kijang mendengar gemuruh genderang perang yang berasal dari hutan. Sebagai panglima baris-berbaris kerajaan, saat itu juga sang kijang secara sigap melakukan gerakan baris-berbaris sebagai persiapan untuk berangkat berperang. Saat melakukannya, secara tak sengaja semua bayi sang berang-berang terinjak-injak dan mati.

Beberapa jam kemudian bu berang-berang kembali KLIK DISINI lanjutan: “Siapa Yang Salah?..” (Dongeng Indonesia Go Internasional 3)